Langsung ke konten utama

quarantine day 4

Kegiatan aku sekarang membuat tugas untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah yang berkenaan mengenai Relasi makna.

Relasi makna adalah hubungan kebermaknaan antara sebuah kata atau satuan bahasa lainya dengan kata atau satuan bahasa lainya. Hubungan kebermaknaan mungkin menyangkut hal kesamaan makna, kebalikan makna, kegandaan makna, ketercakupan makna dan sebagainya.
1. Sinonim
Verhaar (1978) mendefinisikan sinonim sebagai ungkapan berupa kata, frase, atau kalimat yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Contohnya: Buruk dan jelek
Bunga dan kembang
Bapak dan ayah
Hubungan makna antara dua buah kata yang bersinonim bersifat dua arah. Misalnya bunga bersinonim dengan kembang, maka kembang bersinonim dengan bunga. Dua buah kata yang bersinonim diatas tidak pernah mempunyai makna yang sama persis, mutlak dan simetris. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor berikut :
Waktu
Misalnya kata hulubalang dan komandan merupakan dua buah kata yang bersinonim tetapi karena faktor waktu, kedua kata tersebut tidak bisa dipertukarkan. Hulubalang hanya cocok dijaman dulu, sedangkan komandan cocok untuk jaman sekarang.
Tempat atau Daerah
Misalnya kata saya dan beta merupakan dua kata yang bersinonim, tetapi kedua kata tersebut tidak dapat dipertukarkan. Beta hanya cocok digunakan di daerah (Maluku).
Social
Misalnya kata aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim, tetapi kata aku hanya dapat digunakan dengan teman sebaya dan tidak untuk digunakan kepada orang yang social nya tinggi.
Bidang Kegiatan
Misalnya kata tassawuf, kebatinan dan mistik adalah tiga buah kata yang bersinonim, namun kata tassawuf hanya di pakai dalam agama islam, kebatinan untuk yang bukan islam dan mistik untuk semua agama
Nuansa Makna
Misalnya kata melihat, melirik, melotot, meninjau, dan mengintip adalah kata-kata yang bersinonim, kata melihat bisa digunakan secara umum, kalo melirik hanya dapat dinyatakan untuk melihat dengan sudut mata, melotot hanya dinyatakan dengan mata terbuka lebar, meninjau hanya dinyatakan dengan melihat dari jauh.
Dalam bahasa Indonesia ada juga satuan yang memiliki sinonim yaitu :
Sinonim Morfem (bebas) Morfem (terikat)
dia dengan nya,
saya dengan ku.
Minta bantuan dia
Minta bantuan nya
Bukan teman saya
Bukan teman ku
Sinonim antara kata dengan kata
Mati dengan meninggal
Buruk dengan jelek 
Sinonim antara kata frase dan sebaliknya
Meninggal dengan tutup usia
Pencuri dengan tamu tak diundang
Sinonin antara frase dengan frase
Ayah ibu dengan orang tua
Sinonim antara kalimat dengan kalimat
Adik menendang bola
Bola ditendang adik
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sinonim karena tidak semua bahasa memiliki sinonim. Kata-kata bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk jadian. Misalnya kata benar dan betul kedua kata ini bersinonim tetapi tidak dengan kata kebenaran dan kebetulan.
Ada kata yang dalam arti sebenarnya tidak memiliki sinonim tetapi dalam arti kiasan memiliki sinonim, misalnya hitam dalam arti sebenarnya tidak memiliki sinonim tetapi dalam arti kiasan hitam bersinonim gelap.
2. Antonim atau Oposisi
Verhaar (1978) mendefinisikan antonim adalah ungkapan (bisa berbentuk kata, frase atau kalimat ) yang maknanya dianggap kebalikan dari ungkapan lain.
Misalnya kata bagus berantonim dengan buruk, besar dengan kecil, membeli dengan menjual.
Hubungan makna antara dua kata yang berantonim ini bersifat dua arah. Jadi kalo bagus berantonim buruk maka buruk berantonim bagus.  Antonim juga disebut dengan istilah lawan kata, lawan makna, atau oposisi.
Berdasarkan sifatnya oposisi dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu :
Oposisi mutlak
Terdapat perlawanan makna yang mutlak. Misalnya antara hidup dan mati terdapat batas yang mutlak, sebab sesuatu yang hidup pasti tidak mati dan sesuatu yang mati pasti tidak hidup.
Oposisi Kutub
Makna kata-kata ini dipertentangkan karena tidak bersifat mutlak melainkan bersifat gradasi. Artinya terdapat tingkatan makna pada katanya, misalnya kata kaya dan miskin terdapat tingkatan kata seperti agak kaya, cukup kaya, sangat kaya dan paling kaya begitu pula dengan kata miskin.
Oposisi Hubungan
Makna kata ini bersifat saling melengkapi artinya kehadiran kata yang satu karena adanya kata lain yang menjadi oposisinya. Misalnya kata menjual dengan membeli, suami dengan istri. Kata ini juga bisa berupa kata kerja seperti maju-mundur, pulang-pergi, pasang-surut, belajar-mengajar. Atau berupa kata kerja benda seperti ayah-ibu, buru-majikan, guru-murid.
Oposisi Heirarkial
Makna kata yang menyatakan suatu deret jenjang atau tindakan. Kata-kata ibi berupa nama, satuan ukuran (berat, panjang, da nisi) nama satuan hitungan dan penanggalan dan nama jenjang kepangkatan. Misalnya meter beroposisi dengan kilometer karena berada dalam satuan yang menyatakan panjang. Kuintal dan ton karena berada dalam satuan yang menyatakan berat.
Oposisi Majemuk
Makna kata yang menyatakan beroposisi lebih dari satu kata. Misalnya kata berdiri beroposisi dengan kata duduk, berbaring, berjongkok dan kata diam bisa beroposisi dengan berbicara, bergerak, dan bekerja.
3. Homoni, Homofoni, dan Homografi
Homonimi
Verhaar (1978) mendefinisikan homonimi sebagai ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain tetapi maknanya beda. Misalnya bisa yang bermakna racun ular dan bisa bermakna sanggup.
Ada dua sebab terjadinya homonimi yaitu :
Bentuk-bentuk yang berhomonimi ini berasal dari atau dialek yang berlainan. Misalnya bisa yang berarti racun dan bisa berarti sanggup
Bentuk-bentuk yang berhomonimi terjadi oleh proses morfologis. Misalnya mengukur dalam kalimat (ibu mengukur kelapa di dapur).
Homofoni
Homofoni berasal dari dua kata yaitu kata homo yang bermakna sama dan fon yang bermakna bunyi, jadi homofoni adalah kata-kata yang mempunyai bentuk yang berbeda, maknaya juga berbeda tetapi memiliki bunyi yang sama. Misalnya kata bang dengan bank, bank adalah lembaga yang mengurus uang sedangkan bang adalah abang yang bermakna kakak laki-laki.
Homografi
Secara etimologi berasal dari kata homo yang bermakna sama dan graf yang bermakna tulisan. Jadi homografi adalah kata yang mempunyai tulisan sama tetapi makna dan bunyi berbeda. Misalnya teras dengan teras, teras yang pertama di lapalkan taras bermakna inti kayu dan yang kedua teras bermakna bagian dari rumah.
4. Hiponimin dan Hipermimi
Hiponimi
Verhaar (1978:137) hiponim adalah ungkapan berupa kata berupa frase dan kalimat yang maknanya berupa arti suatu makna ungkapan lain. Misalnya gurame adalah hiponim dari ikan. Hubungan hiponim ini hanya bersifat satu arah.
Hipermimi
Hipermimi kebalikan dari hiponim. Misalnya kata mahluk berhipernim dengan manusia dan binatang tetapi binatang berhipernim juga dengan ikan, kambing, monyet, gajah. Ikan juga berhipenim dengan gurame, tongkol, bandeng dll.
Disamping istilah hiponimi dan hipermimi terdapat istilah lain yaitu moronimi. Kedua istilah ini mengandung konsep yang hampir sama. Bedanya kalo hipomini menyatakan adanya kata (unsur leksikal) yang merupakan bagian dari kata lain. Misalnya ikan mempunyai bagian-bagian tubuh kepala, sirip, ekor, ingsang, sisik dll maka bisa dikatakan bahwa moronimi dari ikan adalah kepala, sirip, ekor, ingsang, dan sisik.
5. Polisemi
Polisemi diartikan sebagai satuan bahasa terutama kata dan frase yang memiliki makna lebih dari satu. Misalnya kata kepala dalam bahasa Indonesia memiliki makna, bagian tubuh dari leher ke atas (seperti terdapat pada manusia dan hewan).
Bagian dari sesuatu yang terletak dari bagian atas atau depan dan merupakan bagian pentingm (kepala kereta api, kepala meja).
Bagian dari satuan yang berbentuk bulat (kepala paku, kepala jarum).
Bagian dari pemimpin atau ketua (kepala sekolah, kepala kantor).
Jiwa orang seperti dalam kalimat “setiap kepala menerima bantuan RP. 5000.000”
Akal budi seperti dalam kalimat “ badannya besar tetapi kepalanya kosong”
Konsep polisemi hampir sama dengan konsep homonimi. Perbedaanaya adalah homonimi bukanlah sebuah kata, melainkan dua buah kata atau lebih yang kebetulan maknanya sama. Tentu saja homonimi itu bukan sebuah kata maka maknanya berbeda. Makna kata pada homonimitidak ada kaitanya atau hubunganya antara yang satu dengan yang lain. Sedangkan polisemi adalah sebuah kata yang memiliki makana lebih dari satu, makna kata dari polisemi masih ada hubunganya antara makna satu dengan makna lain.
6. Ambiguitas
ambiguitas adalah ketaksaan sering diartikan sebagai kata yang bermakna ganda atau mendua arti. Pengertian ambiguitas hampir sama dengan pengertian polisemi. Perbedaanya terletak pada penggandaan makana pada polisemi dari kata, sedangkan penggandaan makana pada ambiguitas berasal dari satuan yang lebih besar yaitu frase atau kalimat dan terjadi akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda. Misalnya buku sejarah baru dapat ditafsirkan sebagai:
Buku sejarah itu baru terbit
Buku itu berisi sejarahn jaman baru
Pengertian ambiguitas hampir sama dengan homonimi. Perbedaanya terletak pada apabila homonimi dilihat dari sebagai bentuk yang kebetulan sama dan bagian makna yang berbeda, sedangkan ambiguitas adalah sebuah bentuk dengan makna yang berbeda sebagai akibat dari berbedanya penafsiran struktur gramatikal benuk tersebut. Ambiguitas hanya terjadi pada tataran frase dan kalimat sedangkan homonimi dapat terjadi pada semua satuan gramatikal.
6. Redundansi
Istilah redundansi sering diartikan sebagai berlebih-lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misalnya bola ditendang kevin dengan bola ditendang oleh si kevin. Pemakaian kata oleh kedua kalimat tersebut dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang berlebihan dan sebenarnya tidak perlu.

Komentar