Langsung ke konten utama

quarantine day 6

Kegiatan aku sekarang agak beda dengan kemarin karena disini aku mengerjakan tuga dengan menggali lebih dalam tentang sejarah maenpo.

Sejarah dan Kaidah Maenpo Cikalong
Di Tatar Pasundan istilah bela diri pencak silat lebih dikenal dengan kata penca, silat, penca silat dan maenpo. Kata penca terdapat dalam manuskrip Sanghyang Ikshakandha Ng Karesia, Kidung Sunda mengenai tragedi Bubat (1346M), Dyah Pitaloka beserta Ayahnya Prabu Maharaja Linggabuwana Wisesa dan Ibundanya Ratna Lisning yang tewas didalam pertempuran yang sangat tidak berimbang dalam melawan jumlah pasukan Kerajaan Majapahit yang menyerang keluarganya. Puluhan rombongan henteu kaitung tujuh rupa penca, anu ulin pakarang bae lain deui bangsa, serimpi bedaya (Hoen 1878:99) ( Palangan Bubat, Soepandi dan Atmadibrata 1977:45).
Meskipun induk organisasi pencak silat (IPSI) telah menyepakati tentang pengertian bela diri pencak silat itu sendiri, namun demikian dalam masyarakat tradisional sunda itu sendiri masih banyak yang mengartikan kata pencak sebagai dua kata yang berbeda. Penca sering diartikan sebagai suatu bentuk bela diri yang yang masih dapat diperlihatkan sebagai bentuk kesenian kebudayaan yang kadang diidentikan dengan ibing (penca : kaasup olah raga bela diri anu ngagunakeun karikatan jeung kapinteran ngagerakeun kabeh anggahota badan biasana bari ditabuhan ku gendang penca / termasuk olah raga bela diri yang menggunakan ketangkasan dan kepandaian menggunakan anggota tubuh yang biasanya diiringi dengan suara gendang pencak, Kamus Bahasa Sunda : R.A. Danadibrata,  hal : 514). 
Sementara silat adalah bentuk bela diri atau ilmu perkelahian atau pertempuran sesungguhnya yang hanya dikeluarkan pada saat yang mendesak dan tabu untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. Dengan bahasa keseharian penca sering dikaitkan atau diidentikan dengan kembangna (kembangnya) sedangkan silat buahna, eusina atau intina (buahnya, isinya atau intinya. 
1.  Asal Kata Maenpo 
Sementara istilah lain dari Bahasa Sunda terutama khususnya untuk Daerah Cianjur pencak silat lebih dikenal dengan sebutan Maenpo, meski diakui perkembangan istilah ini tidak sepesat pencak silat dan masih kurang akrab didengar ditelinga masyarakat Indonesia. Dan orang yang menciptakan nama serta mempopulerkan istilah maenpo ini pada masyarakat Cianjur adalah Raden Haji Ibrahim Jayaperbata yang dikenal sebagai pendiri Maenpo Aliran Cikalong. Pengertian kata Maenpo ini sendiri  terbagi menjadi dua kata yang cara penulisanya dipisah yaitu maen (permaenan) dan po (poho) yang berarti lupa begitu pula dengan penulisanya, seperti yang pernah di tulis oleh O’ong Maryono dalam bukunya “Pencak Silat Merentang Waktu”. Selain itu ada juga pendapat lain yang menuliskan menjadi satu kata yakni Maenpo. Kata maenpo juga ada yang menjadikanya katanya menjadi akronim kata maen anu euweuh tempo di populerkan oleh Raden Haji Tarmidi (keponakan dari Raden Haji Ibrahim Jayaperbata). Akronim ini menggambarkan maenpo sebagai suatu seni bela diri yang memiliki pola dan teknik permainan yang sangat cepat yang tidak memberikan tenggang waktu yang panjang dan kesempatan bergerak pada lawan yang dihadapinya. Dalam maenpo sendiri pergerakan baik dalam menyerang maupun menahan atau membendung serangan lawan baik memanfaatkan celah waktu yang sempit dapat mempersulit pergerakan dan posisi lawan. Selain itu ada pula yang mengkaitkan kata po sebagai serapan dari bahasa Cina yang berarti kepalan tangan atau pukulan. Hal ini dapat dipahami karena para guru Raden Haji Ibrahim Jayaperbata tinggal dibatavia yang dimana kemungkinan pengaruh penggunaan istilah bahasa Cinanya sangat banyak yang menjadi serapan dan bagian dari bahasa keseharian masyarakat Betawi yang kemudian terbawa penggunaan kata maenpo sebagai istilah kedalam pembendaharaan kata Bahasa Sunda. Orang betawi masih akrab menggunkan istilah maen pukul sebagai pedanan kata pencak silat hingga sampai sekarang.
Tataran pasundan merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak ragam aliran bela diri yang mewarnai dunia persilatan. Beberapa istilah pencak silat yang ada di pulau jawa dan sangat dikenal masyarakat sunda antara lain penca silat, penca, silat, amengan, ulin, dan maenpo. Sementara itu kata silat lebih akrab dikenal oleh masyarakat daerah rumpun melayu, bela diri yang sangat sungguh-sungguh dan sakral ini awal pertama dikenal oleh masyarakat terdahulu atau terutama yang berada di daerah Pulau Jawa, Bali dan Madura.
Semua ini adalah hasil kekayaan para leluhur zaman dulu dan sifanya ini intelektual dan berarifan dalam memandang harmoni kehidupan zaman dulu. Namun seiring pesatnya kemajuan zaman kehidupan masyarakat sekarang yang semakin hari semakin modern. Bela diri maenpo dan penca silat semakin kesini semakin terasingkan di masyarakat karena keadaan zaman yang semakin canggih apalagi dikalalangan generasi muda sangatlah terlupakan. Maka dari itu kita sebagai masyarakat harus bisa menjaga dan bertanggung jawab dalam menyikapi kearifan dan keberlangsungan pelestarian bela diri pencak silat dalam konteks zaman. Agar senantiasa bela diri pencak silat ini selalu terjaga nilai-nilai kebudayaan leluhurnya dan dapat mempertahankan keberdaan bela diri pencak silat ini di tengah arus budaya global yang kian meningkat. 
2. Sejarah Maenpo Cikalong
Menurut tuturan Raden Memed bin Raden Obing Ibrahim yang lahir di Cianjur pada tahun 1919. Pada 1994 usia beliau 75 tahun beliau bertutur bahwa aliran maenpo ini diciptakan oleh Juragan Haji Ibrahim Cikalong. 
Cikalong adalah nama sebuah kampung dicianjur yang terkenal karena adanya makam Raden Aria Wiratanu Datar atau sering disebut Eyang Dalem Cikundul, karena adanya makam itu, tempat itu menjadi ramai oleh penggunjung yang hendak berjiarah ke makan Raden Aria Wiratanu Datar. Berdasarkan tradisi lisan dan cerita sesepuh setempat yang mengetahui sejarah lahirnya bela diri cikalong ini adalah yang menjadi muri-murid utama Raden Aria Wiratnu Datar, yaitu Raden Ibrahim, Raden Djajaperbata dan anak cucunya yang termasuk keturunan Dalem Aria Cikalong. 
Karena pada saat itu yang pertama kali menyebarkan Bela Diri Maenpo ini keluarga besar keturunan Dalem Aria Cikalong maka sebelumnya menpo sangat dirahasiakan karena hanya dipelajari oleh keturunan Dalem Aria Cikalong saja atau bisa disebut keturunan Ningrat. Raden memed juga menuturkan bahwa kalau kalangan dari rakyat biasa ingin bisa bela diri maenpo harus ada ketekunan dan rajin dalam mempelajarinya karena sifatnya sangat rahasia maka tidak sembarang orang bisa mempelajarinya oleh karena itu kita harus bersungguh-sungguh mempelajari dan menjalankan bela diri ini tetapi kita harus membiasakan diri terlebih dahulu supaya kita betah dan sudah merasakan sekulit sedaging bersatu dalam badan dengan bela diri maenpo ini. 
Raden Memed juga menuturkan bahwa bela diri maenpo ini tidak dibatasi atau tidak dikhususkan untuk orang yang memiliki bentuk tubuh dan ukuran tenaga tertentu, melainkan untuk siapa saja yang memang benar-benar ingin belajar dan bersungguh-sungguh gigih dalam belajar mau itu yang bertubuh tinggi atau yang bertubuh pendek, baik yang bertenaga kuat atau bertenaga lemah. Karena yang bertubuh kecil pasti mencari akal untuk menghadapi orang yang bertubuh besar memakai siasat agar dapat melawan dengan tenaga kecil karena manusia dapat menambah kekuatan tubuh dengan akal. 
Ketika kita saat akan melawan manusia kuat jngan dilawan pula dengan kekuatan, karena kuat hendaknya harus dilawan dengan kelemahan, yang berat harus dilawan dengan yang ringan dan yang cepat harus dilawan dengan yang lambat.  Hal ini menyimpang dari kebiassan yang seolah-olah tidak masuk akal, oleh karena itu bela diri  maenpo ini harus direnungkan dan terus di pelajari dengan rajin karena belajar dengan rajin adalah kunci utama manusia bisa memiliki kemampuan yang kita mau.  Hakikat bela diri maenpo adalah mampu mengatasi atau menaklukan lawan dengan tidak mengandalkan kekuatan jasmani artinya kita harus mengandalkan teknis metode bela diri maenpo  dengan sempurna dan tepat sasarannya, sehingga kita dan lawan kita bisa selamat dan tidak sama sekali mendapat malapetaka apapun. 
Raden abad salah seorang sesepuh dari kalangan Pendekar Cianjur mengatakan bahwa dalam perilaku bela diri maenpu setiap tindakan dan gerakan itu mengandung maksud untuk menjauhkan orang yang akan berbuat onar atau kerusakan, menolak orang yang akan berkhianatdengan melakukan kekerasan pada diri kita (serangan fisik). 
Salah satu keistimewaan Raden H. Ibrahim adalah dalam penerimaan murid yang hendak mengikuti bela diri maenpo ini, beliau tidak membatasi murid harus mempunyai bakat dan murid beliaupun sangat sedikit alasan beliau memiliki murid sedikit ialah agar bisa mengatur waktu sebaik mungkin karena beliau berpikir setiap murid harus memiliki waktu khusus dengan beliau. Beliau menerapkan waktu latihanya dengan cara satu waktu hanya satu murid yang hendak berlatih dan beliau sangat berhati-hati dalam memilih muridanya karena apa yang beliau ajarkan kepada muridnya akan menjadi sangat berbahaya jika ada ditangan manusia yang salah. 
Dengan begitu beliau sangat memeperhatikan betul-betul sifat, karakter semua muridnya tujuan ini untuk menggali kekuragan dan kelebihan setiap muridnya. Karena beliau tidak mau salah mengajarkan muridnya. Tetapi ada juga murid-murid yang berbakat, contohnya Rd. Obing yang akhirnya dikenal dengan nama Rd. Obing Ibrahim, nama Ibrahim diberikan oleh Rd. H  Ibrahim sendiri alasan beliau memberikan nama itu karena beliau sangat sayang kepada Rd. Obing karena Rd. Obing adalah salah satu muridnya yang diajarkan semua bela diri maenpo ini. 
Dari semua penjelasan diatas ysng sangat penting kita tau dalam bela diri Maenpo Cikalong ini ialah Olah Rasa, yang di ketahui oleh Ulin Tapel. Jadi semua murid itu harus bisa mempelajari semuanya seperti Peupeuhan, Ulin Tangtung, Ulin Puhu, yang dilakukan secara bertahap. Ada 3 tahapan olah rasa dalam bela diri maenpo ini yaitu :
Rasa Napel
Rasa Napel ialah tahapan pertama dalam olah rasa, dilakukan dengan menempelkan kedua lengan dengan lawan. Untuk murid dengan rasa yang sudah sangat halus dan tajam, mereka melakukanya dengan tidak melihay (menunduk atau menutup mata dengan kain), tetapi bisa merasakan pergerakan lawan dan arah sumber tenaga lawan.
Rasa Anggang
Tahapan kedua rasa anggang yang dilakukan tanpa menempelkan tangan, dan mencoba membaca tenaga , arah serangan, sumber tenaga dan pergerakan lawan. Ini seperti rasa napel yang diberi jarak, dan dalam kondisi mata tertutup. 
Rasa Sinar 
Ini mungkin terdengar seperti mimpi, seperti khayalan, tetapi kalau sudah melihat seseorang pelaku Maenpo Cikalong melakukanya mungkin akan percaya. Hal ini tidak ada sangkut-paut dengan hubungan ghaib. Rasa sinar ini sendiri bisa diartikan sebagai latihan intuisi dan eksistensi. Mungkin salah satu contoh penerapannya kita bisa mengetahui orang yang datang mendekati kita itu punya niat baik atau jahat. Seseuai dengan namanya , merasakan sinar dari orang. 
Ketiga tahapan olah rasa tersebut bertujuan untuk mencari kesempurnaan rasa dalam bela diri maenpo cikalong ini, olah rasa ini bisa di sebut “rasa sajeroning rasa”, artinya “rasa didalam rasa”. Sebuah wujud dalam ketenangan dan kematangan dalam bela diri maenpo. 
Silsilah Maenpo Cikalong 
Hingga saat ini sangat luas sudah penyebaran Maenpo Cikalong ini dalam dunia persilatan, banyak variasi permainan Maenpo Cikalong ini yang beredar dimasyarakat. Ada yang memiliki 7 jurus, 10 jurus, 13 jurus, dan bahkan ada yang sampe 30 jurus. Selain itu masih ada gabungan Maenpo Cikalong dan Maenpo Sabandar, seperti 5 Jurus Adegan Serong, Perguruan Silat Sanalika, Maenpo Cikaret, dan lain sebaginya. 
Dari banyak macam penyebaran aliran Maenpo Cikalong ini ada beberapa Garis Silsilah yang menurut penulis sangat berpengaruh dalam penyebaran Alira Maenpo Cikalong pada saat ini. Penulis sada bahwa masih banyak garis silsilah lainnya yang juga mempengaruhi gaya aliran Menpo Cikalong saat ini, selain itu yang akan penulis jabarkan dibawah ini namun penulis hanya kan menjabarkan beberapa daintaranya yang memang benar-benar diketahui dan dipahami penulis.
3. Garis Silsirah Rd. Enoh
Rd. H. Ibrahim -> Rd. H. Enoh -> Rd. H. Emod -> Rd. H. Abdullah -> Rd. Enceng. Dari garis silsilah ini sangat unik, karena digaris silsilah ini para pewarisnya sangat terkenal sebagai praktisi pewaris Bela Diri Menpo Sabandar. 
Garis Silsilah Rd. Obing Ibrahim
Rd. Obing Ibrahim ini sebenarnya adalah murid dari Rd. H. Enoh, tetapi karena melihat bakat beliau, maka Rd. H. Ibrahim meminta agar Rd. Obing Ibrahim belajar langsung dari Rd. H. Ibrahim. 
Garis silsilahnya adalah sebagai berikut: 
Rd. H. Ibrahim -> Rd. Obing Ibrahim -> Rd. Utuk -> Rd. Popo Sumadipraja -> Rd. Ateng Kerta. Dari garis silsilah lahirlah jurus 5 Adeg Serong dan Perguruan Silat Sanalika. 
Lalu Garis Silsilah lain dari Rd. Obing adalah : 
Rd. H. Ibrahim -> Rd. Obing Ibrahim -> Rd. Didi -> Rd. Ita Sasmita. Dari silsilahini lahir Cikalong Pusaka Siliwangi dengan ciri khasnya adalah Cikalong 13 Jurus salah satunya Jurus Golok. 
Garis Silsilah Rd. Busrin
Rd. H. Ibrahim -> Rd. Busrin -> Rd. Abad -> Rd. Harun. Dari silsilah ini lahir Aliiran Maenpo Cikalong 30 Jurus Kajadian, dimana jurusnya bejumlah 30 jurus yang merupakan jurus yag diadopsi dari kajadian. 
Garis Silsilah Rd. Bratadilaga
Rd. H. Ibrahim -> Rd. Bratadilaga -> Rd. Muhyidin -> Rd. Idrus -> Rd. Uweh. Dari silsilah ini lahir aliran Cikalong Pasar Baru. 
Garis Silsilah Aki Pe’i
Rd. H. Ibrahim -> Aki Pe’I -> Aa Oha -> Wak Dudun. Dari garis silsilah ini lahir aliran Maenpo Cikaret Cianjur. 
Garis silsilah Rd. Sanusi 
Rd. H. Ibrahim -> Rd. Sanusi (Ajengan Cikaret/Sukabumi). Dari garis silsilah ini lahir aliran Cikaret Sukabumi. 
Dari sejarah Maenpo Cikalong ini akhirnya kita bisa tahu dan paham asal-usul Maenpo Cikalong ini dari mulai yang mendirikanya, gerakanya, cara mempelajarinya, cara mempraktikanya dan cara bela diri yang baik dan benar. Mungkin kita kaum awan hanya bisa mengetahui nama dan beberapa gerakanya  saja tentang Maenpo ini, tanpa tau bagaimana sulitnya para pendiri Maenpo zaman dulu menciptakan beradaban bela diri ini, tetapi setelah membaca dan memahami semuanya ternyata Sejarah Maenpo ini sangat luas sampai-sampai masuk hingga manca Negara dan mendunia.




Komentar